xr:d:DAEpBmlIxQI:1688,j:8642806302692494745,t:23080402
Sumber: https://idseducation.com/wp-content/uploads/2023/08/penulis-naskah-film.jpg
Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk pementasan. Drama membutuhkan naskah yang memuat berbagai unsur penting agar bisa dipentaskan dengan baik. Di antara berbagai unsur tersebut, terdapat tiga bagian yang memiliki peran penting dalam alur dan penyampaian cerita, yaitu prolog, dialog, dan epilog. Berikut penjelasan ketiga bagian unsur naskah drama tersebut.
Prolog: Pembuka Tirai Kisah
Prolog berasal dari bahasa Yunani, prologos, yang berarti kata pendahuluan. Pada naskah drama, prolog adalah bagian pembuka yang berfungsi sebagai pengantar cerita. Tujuan prolog adalah memberi petunjuk atau gambaran umum kepada penonton tentang apa yang akan terjadi di pementasan tersebut.
Isi prolog bisa berupa pengenalan tokoh (memperkenalkan karakter-karakter utama yang akan terlibat dalam cerita), latar belakang cerita (memberikan informasi mengenai waktu tempat, dan situasi yang melatarbelakangi kisah), dan gambaran konflik (mengisyaratkan konflik atau masalah yang akan menjadi inti dari drama, sehingga membuat penonton penasaran).
Berikut contoh bagian prolog dalam naskah drama.
| Alkisah, di sebuah desa yang tenang, hiduplah sepasang kakak beradik bernama Maya dan Rino. Kehidupan mereka damai, hingga suatu hari, sebuah surat misterius datang, mengubah segalanya dan membawa mereka ke dalam petualangan yang tak terduga. |
Dialog: Jantung dan Jiwa Drama
Setelah prolog memberikan pengantar, drama pun mulai bergerak maju melalui dialog. Dialog adalah percakapan yang dilakukan oleh para tokoh dalam naskah. Inilah bagian yang paling dominan dan menjadi “jantung” dari sebuah drama, karena melalui dialoglah cerita disampaikan dan konflik dikembangkan.
Melalui dialog, kita dapat mengetahui karakter tokoh (cara tokoh berbicara, pilihan kata, dan nada suaranya dapat menggambarkan sifat, perasaan, dan kepribadiannya, apakah ia pemalu, berani, marah, atau cemas), alur cerita (dialog menjadi sarana bagi penulis untuk menggerakkan alur cerita, memperkenalkan masalah baru, dan memajukan plot), dan hubungan antar tokoh (bagaimana para tokoh berinteraksi melalui percakapan akan menunjukkan hubungan mereka satu sama lain, apakah mereka sahabat, musuh, atau keluarga).
Berikut contoh bagian dialog dalam naskah drama.
| Rino : “Maya, apa kita harus melakukan ini? Aku takut.” Maya : “Tidak ada pilihan lain, Rino. Demi Ibu, kita harus menemukan petunjuk dalam surat ini.” |
Tips menulis dialog yang baik sebagai berikut.
- Singkat dan jelas, hindari percakapan yang bertele-tele.
- Sertakan aksi, gabungkan dialog dengan deskripsi tindakan untuk membuat adegan lebih hidup. Contoh:
“Maya: (mengambil surat itu dengan tangan gemetar) Apa yang harus kita lakukan?”
Epilog: Penutup Kisah
Setelah konflik mencapai puncaknya dan cerita selesai, drama diakhiri dengan epilog. Epilog adalah bagian penutup yang berisi kesimpulan atau penegasan pesan moral dari cerita. Letaknya selalu di bagian akhir dan sering kali memberikan penjelasan tentang nasib para tokoh setelah semua peristiwa terjadi. Epilog berfungsi untuk menyimpulkan cerita, menyampaikan pesan moral, dan memberi kepastian (menjelaskan bagaimana nasib akhir para tokoh, sehingga penonton merasa puas dan tidak penasaran).
Berikut contoh bagian epilog dalam naskah drama.
| “Pada akhirnya, Maya dan Rino berhasil memecahkan misteri surat itu. Mereka belajar bahwa keberanian dan kerja sama adalah kunci untuk mengatasi setiap tantangan. Desa kembali damai, dan mereka hidup bahagia bersama Ibu, dengan pelajaran berharga yang akan selalu mereka ingat.” |
Sumber: https://kumparan.com/berita-hari-ini/struktur-drama-lengkap-dengan-ciri-dan-unsurnya-1uffrcHPW1d dengan pengubahan