Adi adalah anak yang ceria dan suka bermain.
Ia memiliki banyak teman.
Mereka sering bermain di sore hari.
Suatu hari, saat pulang bermain,
Adi melihat mobil mainan di etalase toko dekat pasar.
Mobil itu besar dan berwarna merah.
Mobil itu bisa dikendalikan dengan remote control.
Adi sangat ingin memilikinya.
Ia membayangkan serunya bermain mobil itu.
Adi pulang ke rumah.
Ia langsung bercerita kepada ibunya.
“Bu, Adi ingin membeli mobil mainan itu.
Harganya lima puluh ribu rupiah.
Adi sudah punya uangnya di celengan,” kata Adi dengan semangat.
Ibu tersenyum dan duduk di samping Adi.
“Adi, uang itu kamu kumpulkan dari hasil menabung.
Sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai.
Apakah kamu sudah punya semua keperluan sekolahmu?” tanya Ibu dengan lembut.
Adi terdiam sejenak.
Ia memang belum membeli perlengkapan sekolah.
Ia berpikir sejenak, lalu berkata,
“Tapi, Bu, mobil mainan itu sangat keren.
Adi ingin sekali membelinya.”
Ibu mengangguk dan berkata,
“Adi, coba pikirkan.
Mana yang lebih penting,
membeli keperluan sekolah atau mainan?
Kalau uangmu habis untuk mainan,
bagaimana dengan buku dan alat tulismu?”
Adi merenung.
Ia tahu bahwa sekolah adalah hal yang penting.
Jika tidak memiliki perlengkapan sekolah, ia akan kesulitan belajar.
Keesokan harinya, Adi pergi ke toko alat tulis bersama Ibu.
Ia menggunakan uang tabungannya.
Ia membeli buku, pensil, penghapus, dan penggaris.
Semua kebutuhan sekolahnya terpenuhi.
Adi merasa lega.
Di perjalanan pulang, Ibu berkata,
“Adi, Ibu bangga kepadamu.
Kamu memilih untuk mendahulukan kebutuhanmu.
Kalau kamu rajin menabung lagi,
suatu saat kamu juga bisa membeli mainan yang kamu inginkan.”
Adi tersenyum.
Ia merasa senang karena sudah membuat pilihan yang bijak.
Ia berjanji pada dirinya sendiri.
Ia akan terus menabung dan belajar dengan giat.
Adi belajar untuk mendahulukan kebutuhan.
Kebutuhan adalah hal yang penting.
Adi juga belajar tentang kesabaran dan kerja keras. Hal itu membantunya mencapai keinginannya.