Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, kondisi ekonomi negara ini bisa dibilang sangat sulit. Salah satu masalah utama adalah inflasi yang tinggi, di mana harga-harga barang naik drastis dan daya beli masyarakat menurun. Bahkan pada tahun 1950-an, harga-harga barang naik lebih dari 100 persen, sehingga uang yang beredar seolah kehilangan nilainya.
Salah satu faktor penyebab inflasi adalah beredarnya banyak jenis mata uang sekaligus. Pada awal kemerdekaan, pemerintah mengeluarkan maklumat yang menetapkan mata uang yang sah di wilayah Republik Indonesia, antara lain sisa uang Belanda (De Javasche Bank), uang pemerintah Hindia Belanda yang sudah disiapkan Jepang, dan uang kertas Jepang yang beredar di Indonesia. Selain itu, pemerintah juga merencanakan penerbitan Oeang Republik Indonesia (ORI). Keberadaan beberapa mata uang ini membuat nilai uang tidak stabil dan memicu kenaikan harga barang.
Selain masalah mata uang, kondisi ekonomi pascaperang juga memperburuk situasi. Infrastruktur yang hancur akibat Perang Dunia II, terbatasnya sumber daya, dan kekurangan bahan pangan menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak. Kekurangan ini diperparah dengan pengeluaran pemerintah yang tinggi, misalnya untuk membangun infrastruktur, membiayai tentara, dan mempertahankan kedaulatan negara.
Faktor lain yang memicu inflasi adalah defisit anggaran. Pemerintah pada saat itu mencetak uang lebih banyak untuk menutupi kekurangan anggaran, sehingga jumlah uang yang beredar meningkat tanpa diimbangi dengan produksi barang yang cukup. Kondisi politik yang belum stabil, termasuk perang kemerdekaan dan pergolakan internal, juga memperparah inflasi karena mengganggu produksi dan distribusi barang.
Inflasi pada masa awal kemerdekaan berdampak luas bagi masyarakat. Kenaikan harga pangan dan barang pokok memengaruhi upah pegawai, buruh, dan kebutuhan sehari-hari rakyat. Pemerintah pun mencoba berbagai kebijakan untuk menanggulangi inflasi, seperti menurunkan nilai tukar rupiah terhadap dolar, membekukan giro dan deposito besar, melakukan sanering, serta merencanakan redenominasi mata uang. Namun, upaya ini tidak selalu langsung berhasil karena tantangan ekonomi yang kompleks.
Sejarah inflasi pada awal kemerdekaan mengajarkan banyak hal. Inflasi tinggi terjadi karena kombinasi faktor ekonomi, politik, dan sosial. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah Indonesia dalam merancang kebijakan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa mendatang.
Sumber Referensi:
Kredit Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:SukarnoBacaProklamasi.jpg