Ada sebuah hutan hijau yang damai.
Di sana hiduplah bermacam hewan.
Ada kura-kura bernama Kuku.
Ada juga rusa bernama Rurus.
Keduanya adalah sahabat baik meskipun sangat berbeda.
Kura berjalan lambat dengan tempurung beratnya.
Rusa berlari cepat dengan kakinya yang panjang dan kuat.
Suatu hari, Rurus berkata.
“Kuku, aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa hidup dengan berjalan selambat itu.
Aku tidak pernah melihatmu berlari.”
Kuku tersenyum dan menjawab,
“Aku memang lambat, Rurus,
tetapi aku tidak pernah merasa terburu-buru.
Aku menikmati setiap langkahku.”
Rurus menggelengkan kepala.
“Aku rasa hidupmu membosankan tanpa bisa berlari kencang.”
Kuku tersenyum lagi.
“Bagaimana kalau kita saling belajar kelebihan masing-masing?”
Rurus setuju, dan mereka pun mulai mencoba.
Rurus mengajari Kuku berlari.
Namun, setelah beberapa langkah, Kura terengah-engah.
“Maaf, Rurus. Berlari bukan untukku.
Tempurungku terlalu berat,” katanya.
Giliran Kuku mengajak Rurus berjalan perlahan.
Berjalan sambil menikmati keindahan sekitar.
Mereka melihat bunga yang cantik.

Mereka mendengar burung bernyanyi.
Mereka juga menemukan sarang lebah madu.
Rurus terkagum-kagum.
“Aku sering melewati tempat ini,
tetapi aku tidak pernah menyadari ada hal seindah ini,” kata Rurus.
Kuku tersenyum.
“Lihat? Setiap cara hidup memiliki kelebihannya.”
Sejak hari itu, Rurus dan Kuku makin saling menghargai.
Rurus belajar untuk melambat dan menikmati sekitarnya. Sementara itu, Kuku belajar menghargai kecepatan Rurus saat menghadapi situasi mendesak.