Cila si Kelinci memiliki tetangga baru.
Namun, Cila belum sempat bertemu.
Cila memiliki ide.
Esok pagi ia akan mengunjungi tetangga barunya.
Pagi ini Cila bersemangat sekali.
Ia sudah menyiapkan kado untuk tetangganya.
Ia sudah menyiapkan wortel-wortel terbaik.
Wortel-wortel itu ia panen sendiri dari kebunnya.
Tok … tok .. tok …
Cila mengetuk pintu rumah tetangganya.
Tidak ada yang membukakan pintu.
Cila mengetuk lagi.
Tok .. tok … tok …
Cila menunggu beberapa menit.
Tidak ada sahutan ataupun seseorang membukakan pintu.
Rumah tetangganya juga hening.
Tidak terdengar aktivitas di dalam rumah.
Cila memutuskan pulang ke rumah dengan kecewa.
Sore hari, Cila kembali ke rumah tetanggannya.
Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Namun, tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya, Cila memutuskan pulang.
Ia meninggalkan keranjang berisi wortel.
Keranjang itu ditaruh di depan pintu rumah tetangganya.
Ia menuliskan catatan di keranjang tersebut.
Keesokan harinya, pintu rumah Cila diketuk.
Cila segera membukakan pintu.
“Hai, Cila! Aku Keke, tetangga barumu,” kata Keke si Kelelawar.
“Hai, Keke! Aku Cila,” kata Cila sambil menjulurkan tangan.
Cila dan Keke pun bersalaman.
Mereka saling memperkenalkan diri.
“Terima kasih atas wortel yang kamu berikan.
Maafkan aku belum bisa mengunjungimu.
Aku setiap pagi sampai sore tidur.
Sedangkan malam hari harus mencari makan,” jelas Keke.
“Oh, begitu. Berarti kemari aku telah mengganggumu.
Maafkan aku, Keke,” kata Cila merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, Cila.
Ini aku bawakan sedikit buah-buahan untukmu,” kata Keke.
“Terima kasih banyak, Keke,” kata Cila.
Mereka pun menjadi tetangga yang akrab. Walaupun berbeda kebiasaan, mereka saling menghargai.